Long weekend di bulan Februari ini, kami bersebelas memutuskan untuk melakukan trip ke tempat baru yang belum pernah dikunjungi..apabila dilihat di peta, lokasinya terletak di daerah selatan paling ujung Pulau Jawa, dan termasuk daerah Pantai Selatan, yup namanya Ujung Genteng :D

Peta Ujung Genteng

Peta Ujung Genteng

Perjalanan dimulai dari Jakarta sekitar pukul 3.30 subuh dengan 2 mobil, yaitu Avanza hitam isi 3 orang dengan bagasi penuh barang serta Kijang kotak biru full berisi 7 orang , melewati tol Jagorawi yang untungnya masih belum padat oleh kendaraan. Dari tol itu, perjalanan dilanjutkan ke arah Cibadak menuju Pelabuhan Ratu, kali ini rutenya bisa dibilang sangat menantang, karena jalan yang kami lewati banyak yang rusak..bolong dimana – mana..berbagai macam kelokan yang naik turun berkali – kali seperti menaiki roller coaster! tidak heran teman – temanku yang ada di kijang kotak meminta berhenti karena muntah mabuk perjalanan. Disarankan bagi yg baru pertama kali ke Ujung Genteng, jalur yang satu ini dilewati saat hari terang, karena saat malam rute ini termasuk berbahaya dengan kurangnya penerangan, jalanan rusak dan adanya kendaraan yang diberhentikan tiba – tiba oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Setelah sampai di Pelabuhan Ratu, tidak jauh lagi pastilah kami sampai di Ujung Genteng! itulah yang ada di benak kami semua..tapi ternyata tidak semudah itu..kami harus melewati rute dengan keadaan jalanan yang sama seperti sebelumnya kurang lebih setengah jam, memasuki daerah perkotaan, lalu terlihatlah palang Ujung Genteng dan pintu masuknya! disini kami harus membayar per orang dan per mobil juga ( seperti di dufan yah! ), tapi perjalanan kami belum berhenti sampai disitu..kami harus melewati jalan lurus ke dalam yang cukup jauh dimana kiri kanannya tidak terlihat pantai sedikit pun..hanya pondok – pondok sepi pemukiman penduduk setempat, toko yang tutup, gerobak makanan yang tidak ada penjualnya, baru akhirnya kami menemukan penginapan yang dituju, yaitu Pondok Adi, sekitar pukul 9.00 pagi.

Pondok Adi

Pondok Adi

Sesampainya di sana, kami kecewa karena pemandangan pantai dan kondisi penginapan tidak sesuai dengan yang kami lihat di beberapa blog travelling. pantai yang ada di seberang penginapan terlihat kotor, di pesisirnya banyak  sampah dan pecahan bebatuan kecil, sedangkan penginapannya terlihat sepi pengunjung seperti sudah lama tidak ditinggali. Dengan wajah lelah dan kelaparan, kami pun segera menurunkan bagasi, menyiapkan makanan siang, dan bersantai sejenak bermain kartu sambil menunggu makanan siap disantap. Untuk liburan kali ini, kami sengaja membawa bahan makanan dari Jakarta, mulai dari beras, bumbu masakan, sayur mayur, sampai bahan makanan ala seafood. Mengapa kami harus begitu tidak praktisnya? karena setelah bertanya kesana – sini, banyak yang bilang makanan yang dijual di daerah ini tergolong harga turis alias mahal, maklum tempat ini sudah dianggap sebagai objek wisata.

Hari Pertama ini kami habiskan dengan menyusuri pantai yang dekat dengan penginapan, berfoto – foto sejenak, dan beberapa dari kami ada yang berenang dan bermain – main pasir. Malam harinya kami habiskan dengan bermain poker, uno, monopoli, serta tidak lupa santapan malam ala BBQ cumi, ikan bakar, dan sayur kangkung ala kadarnya. lumayan untuk hari pertama, walaupun tempat penginapan kami seadanya, karena semua dilakukan dengan hati senang, semuanya jadi bisa dinikmati.

Ujung Genteng

Ujung Genteng

Sunset di Pantai Cipanarikan

Sunset di Pantai Cipanarikan

Tibalah Hari Kedua, dimana pagi harinya banyak kami habiskan di daerah sekitar penginapan..baru lah pada siang hari menjelang sore, kami memutuskan untuk mengunjungi Pantai Cipanarikan untuk menyaksikan Sunset yang katanya indah jika dilihat dari sana. Untuk sampai ke sana, kami harus menyewa 11 ojek karena jalanan menuju ke sana termasuk sempit, tanpa aspal, dan hanya bisa dilalui oleh kendaraan motor roda 2. Ada beberapa mobil yang memaksa untuk melewati jalan berbatu dan sempit itu, akibatnya mobil tersebut terpaksa menyerah karena ban mobilnya salip. Dari penginapan menuju ke sana, memakan waktu kurang lebih 15 menit, setelah turun dari ojek kami harus berjalan kaki lagi melewati jalan sempit yang lebarnya hanya muat 1 orang. tidak jauh dari situ tibalah kami di Pantai Cipanarikan. Kesan awalku saat melihat pantai ini sangat bersih, liar karena tidak banyak dikunjungi orang -orang, serta ombak besarnya yang sungguh indah! membuat orang yang melihatnya ingin segera berenang di pantai itu! tanpa basa – basi kami pun segera bersenang – senang menikmati ombak pantai di tepinya, bermain pasir, dan berfoto – foto dengan latar belakang matahari terbenam. Pukul 6.00 sore saat pantai sudah mulai gelap, dengan badan yang basah kuyup dan dipenuhi pasir, kami segera beranjak pulang. Perjalanan ke penginapan terasa lebih panjang dibandingkan saat perginya, karena penerangan yang kurang, ditambah lagi terhalang oleh debu pasir yang berterbangan menyelimuti motor – motor ojek yang berlalu lalang. Sesampainya di penginapan, kami segera membersihkan diri, lalu menyantap makanan ala seafood bakar lagi dan menutup hari ini dengan wajah lelap penuh senyum.

Bermain di Pantai Cipanarikan

Bermain di Pantai Cipanarikan

Tak terasa Hari Ketiga pun datang, pagi harinya kami habiskan untuk merapihkan barang bawaan, sarapan dan bersantai – santai untuk terakhir kalinya. sekitar pukul 11.00 siang kami bergegas pulang ke Jakarta dengan rute yang berbeda dari awal kami ke sini, karena jalanan di rute awal cukup membuat pusing dan mual perut, akhirnya kami mengambil rute memutar, yaitu melewati pantai carita, dengan harapan jalanannya akan lebih sepi dan bebas dari arus macet hari terakhir weekend. Awalnya rute pulang ini lumayan menyenangkan, karena banyak pemandangan pantai indah di sepanjang jalannya, tetapi setelah berjalan berjam – jam, baru lah terasa rute yang kami pilih ini sangat sangat sangat jauhhh..! meski jam sudah menunjukkan pukul 3.00 sore, kami masih belum melewati daerah carita, ditambah lagi kondisi jalanan yang kami lewati tidak jauh berbeda dengan jalanan awal kami pergi ke Ujung Genteng, akibatnya lalu lintas menjadi lambat dan menjenuhkan……..pukul 4.00 sore…..pukul 5.00 sore…..pukul 6.00 sore……yak sampailah kami di persimpangan arah ke carita, tapi kami memutuskan untuk tidak melewati carita, melainkan mengambil jalan potong yang membawa kami ke tol melewati Pandeglang Serang. Nampaknya kami berjodoh dengan jalanan rusak, lagi – lagi jalanan di tol tidak seperti jalan tol pada umumnya..bergelombang dan bolong di beberapa tempat akibat sering dilalui mobil truk.setelah berjalan lurus dengan kecepatan tinggi, akhirnya kami tiba di Jakarta pukul 11.00 malam…fiuhh…benar – benar liburan dengan jalan terpanjang yang pernah kami lewati..

Walaupun fisik lelah dan mata jenuh melihat jalanan, tetapi liburan kali ini sangat berkesan dengan segala kekurangan dan keindahannya..karena semuanya dijalani dengan  hati senang, dinikmati..tanpa rasa kesal atau marah – marah..

Semoga coretan yang seadanya ini, dapat menjadi review yang berguna bagi pembaca yang ingin berkunjung ke Ujung Genteng..Selamat menikmati liburan!